Rabu, 16 September 2015

The Last Hope



The Last Hope


Hujan. Hujan adalah tetesan-tetesan air yang begitu menyegarkan, aku Dinda Ariana begitu menyukai hujan …

Sore itu, hujan turun dengan derasnya. dengan senang aku melangkahkan kakiku ketengah lapang membawa jiwa dan tubuh terguyur airnya.

Suasana sekolah begitu sepi, hanya ada aku dilapang dan beberapa orang didalam kelas yang sedang mendapatkan  pelajaran tambahan. Yah ini sudah waktu para siswa bersantai dirumah tetapi aku sedang bersantai ditengah lapang.

Sekali-kali kaki ini berlari-lari kecil, membawa tubuh untuk mengikuti irama langkahnya.

            “ Dinda!!!!!!” teriak seseorang dari sebrang lapang yang sukses dengan sekejap menghentikan irama langkahku.

Aku tersenyum tak berdosa melihatnya. Wajah masam, marah, kesal dan khawatir? terpasang diwajahnya.  Sungguh lucu jika seperti itu, tanpa sadar tawaku meledak. Beberapa detik kemudian aku mengehentikan tawaku, oke, sekarang dia benar-benar marah. Tangannya berkacak pinggang dan mata yang menatap tajam kearahku.

“Apa yang kau tertawakan? Cepat kemari bodoh!” teriaknya lagi. Seketika wajahku cemberut mndengarnya. Ia memanggilku bodoh?

‘Ish membuat malu, teman-temannya jadi melihatku semua’ gerutuku dalam hati.

 Beberapa ada yang tertawa, tersenyum sinis dan hanya melihatku sekilas. Suasana sekolah yang sepi kini sedikit ramai. Mereka adalah Siswa yang mendapat pelajaran tambahan tadi dan kelas mereka telah usai. Laki-laki yang tadi menyebutku bodoh termasuk kedalam siswa yang mengikuti pelajaran tambahan itu.

Aku berlari menghampiri laki-laki menyebalkan itu. Sungguh aku ingin memukul mulutnya yang selalu berkata seenaknya tanpa melihat situasi.

Saat dihadapannya aku masih memasang wajah cemberut.

“Ya!!, kenapa kau malah marah? Harusnya aku yang marah Din”

“Kau mengataiku bodoh Dewu. Kau tidak tahu teman-temanmu menertawakanku.” Aku mengehentakan kaki kananku kebiasaan jika sedang kesal.

“Kau memang bodoh. Apa kau masih anak kecil, hah? Kau ingin sakit hujan hujanan seperti itu?” telunjuk jarinya mendorong kecil keningku.

“Kau tahu kalau aku suka hujankan? Lagi pula duduk hanya menunggumu membuatku bosan Dewu!” jawabku diselingi senyum tak berdosa. Ia menghela nafas mendengarnya. Dewu menatap sendu mataku, kenapa aku merasa ia khawatir?

“Menunggu dengan cara yang benar Din. Tidak perlu hujan-hujanan” suaranya rendah begitu tegas.

“Ish kalau dirumah aku tidak bisa hujan-hujanan, ibu pasti memarahiku. Jadi ini kesempatan, Wu”

“Aku yang akan memarahimu Dinda!” jawabnya sedikit membentak.

“Oke.. oke maaf Dewu. Kali ini saja aku tidak akan melakukannya lagi. Jangan bilang ibu ya, please?” ucapku manis. Ia berdecak kecil.

“kau janji sayang?” ia tersenyum setan ketika berkata ‘sayang’.

“oke!” ucapku semangat.

“ayo, hujannya sudah reda. Kita membeli baju dulu untukmu lalu kita makan” ajaknya sambil mengenggam tanganku.

Hangat.. genggaman tangannya begitu hangat. Aku tidak menjawab ajakannya. Hanya mengikuti langkahnya kemana membawaku. Tangan yang menuntunku begitu besar dan terasa aman. Aku menyukainya … aku menyukai sahabatku. 


***

          
  Aku menghela nafas kasar.

            “Lagi. Kau melakukannya lagi Dewu” senyum kecut terhias diwajahku. Aku beranjak dari duduk, dan melangkah pergi dari tempat tadi.

            Ini adalah keempat kalinya, dia membuat janji dan ia juga yang membatalkannya. Untuk kali ini aku tidak membawa handphone, mungkin sudah ada satu pesan dari dewu bahwa ia tidak jadi datang sejak tadi.

            Ini puncak dari rasa kesalku. Aku kecewa sungguh. Ia pasti sedang berkencan dengan ‘pacar’ , ‘calon pacar’, atau mantan pacar’. Lalu untuk apa ia mengajakku bertemu jika akhirnya ia bersama yang lain.

            Sebenarnya aku sudah berfikir jika nanti seperti ini, tapi hati bodoh ini selalu ingin melakukan apapun yang bersangkutan dengan dewu. Bodoh, tentu aku bodoh, tapi itulah cinta.

***

            Kantin ramai orang-orang berlalu lalang aku tidak suka tempat ramai seperti ini, aku lebih suka membawa bekal dari rumah, makan sendiri atau menghabiskan jam istirahat diperpustakaan.

            “Din, jangan cemberut terus? Aku kan udah traktir kamu” ucapnya polos.

            “Kamu tahukan kalo aku gak suka ke kantin” jawabku sebal.

            “Nah, karena itulah aku ngajak kamu kesini. Biar kamu suka kantin” ucapnya enteng. Aku hanya mendelik sebal dengan jawabnya.

            Itulah kenapa aku disini. Sudah kubilang aku mencintainya. Sebenarnya aku bukan tipe apa yang orang inginkan jika aku tidak mau aku tidak akan melakukannya. Tetapi ketika laki-laki itu meminta aku selalu ingin melakukannya. Selalu ingin menjadi kebanggaannya selalu ingin disampingnya.

            “Heh din kamu tahu gak kemarin aku gak sengaja ketemu Milli. Lalu kami jalan bareng dan─..”

            Alasan sebenarnya kenapa Dewu ngajak aku ke kantin adalah untuk mendengarkan curhatnya.

Aku hanya menatap malas Dewu. Setelah nama Milli keluar, seketika apa yang diucapkannya seperti melayang-layang diudara dan tidak masuk kedalam pendengaranku.

            “Din denger gak?” tegurnya seketika aku terbangun dari lamunanku dan tersenyum kikuk.

            “Ah, dilanjutin curhatnya nanti lagi yah? Aku harus balik ke kelas. Terimakasih minumannya Wu, aku duluan” ucapku sembari beranjak pergi meninggalkan bahkan tanpa menunggu jawaban Dewu.

***

Hari ini hujan lagi, bel pulang sudah berbunyi 30 menit yang lalu. Dewu  mengajak untuk pulang bersama. Tentu aku terima dengan senang hati, tapi sedari tadi ia tak menunjukan batang hidungnya. Aku mengecek ponselkupun tidak ada pesan darinya.

“Kemana sebenarnya laki-laki bodoh itu?” Gerutuku sebal .

Tiba-tiba detak jantungku seakan berhenti. Mataku membulat tajam diiringi rasa perih. Sesak menghimpit dada, bibirku terasa sangat kelu. Pemandangan yang begitu indah untuk orang lain tapi tidak denganku.

Lelaki yang aku tunggu dengan santainya melewatiku tanpa permisi. Dewu pulang begitu saja dengan perempuan bernama Milli, motornya melesat cepat meninggalkan sekolah.

 Beberapa detik setelah terdiam, kakiku berlari cepat meninggalkan tempatku tadi, menerobos derasnya hujan.

Air mata turun dengan cepatnya, aku membekap mulutku sendiri mereda suara tangisan bodoh ini.

***

Melangkahkan kakiku keluar kelas setelah meminnta izin untuk ke UKS ditengah pelajaran. Kepalaku benar-benar sakit, mmungkin effect kemarin hujan-hujan dan mengung diri dikamar menangis sampai tertidur, bahkan aku tidak mengganti baju.

Aku menyeret kakiku yang terasa berat. Membuka pintu UKS dengan pelan.

“Dewu” ucapku pelan. Dewu terbaring dikasur. Tidak ada orang lain selain dirinya.

Tiba-tiba rasa khawatir menghampiriku. Berbagai pertanyaan muncul dikepalaku tentang bagaimana keadaannya? Apakah dia sakit? Atau membolos? Setelah bergelut dengan kecemasanku akhirnya,  aku melangkah cepat kearahnya.

Aku meraba dahinya pelan.

‘Dingin’ batinku. Aku menghela nafas lega.

Beberapa detik aku memandanginya. Menyimpan wajahnya dengan baik didalam otak.

“Ini hal terakhir yang aku inginkan darimu Dewu. Terimakasih sayang..”

*** 

The day
 

Ia menangis, ia menagis sembari memegang erat tangan kiriku.

“Jangan pergi sayang” ucapnya seperti menahan tangis

“Aku harus pergi Wu, aku lelah” lirihku.

“Kau meninggalkanku sendiri, kau tidak kasihan padaku?” tanyanya

“Kau punya kekasih, aku tidak khawatir pergi meninggalkanmu” balasku tersenyum lemah.

“tidak, aku tidak punya kekasih Din. Dari.. dari.. dulu aku hanya mencintaimu” ucapnya yang membuatku kaget.

“jangan pergi kumohon. Kita cari cara lain agar kamu bisa kembali seperti dulu, hmm?” ucapnya sarat akan putus asa. Aku tersenyum lemah. Rasa lega mendera mendengar pengakuannya tadi.

“Biarkan aku pergi ya? Aku lelah aku ingin beristirahat Dewu. Relakan aku hmm?” ucapku memohon lemah. Tangan kananku terangkat membelai wajahnya, mengusap tetesan bening yang keluar dari sudut matanya. Ia mengangguk lemah, ia menyetujui apa keinginanku.

“aku juga mencintaimu” ucapku diselingi tangisan kecil. Aku tidak sanggup berpisah dengannya tapi aku merasa tenang untuk pergi darinya. Matanya membulat terkejut, tetesan bening tadi keluar begitu cepat dari matanya. Ia mengenggam tanganku yang ada dipipinya, mengkecup kecil jari-jariku. Tangisnya begitu terdengar ditelingaku, tetapi aku tersenyum melihatnya.

“terimakasih Dewu..” lirihku lemah. Aku menutup mataku pelan, yang terakhir kurasa adalah basah dikeningku sepertinya Dewu mengecup keningku. Setelah itu, aku merasakan sakit yang begitu kuat hingga aku terasa melayang begitu tenang.

***

Before the day

            Saat ia tidur diruang kesehatan, aku memandangi wajahnya dengan seksama. Aku terus memikirkan hubungan kami. Dia sahabatku namanya Dewu Kharisma Winata. Kami berteman sejak sekolah dasar. Dulu, ia pernah menyatakan perasaanya padaku. Karena aku masih kecil aku hanya mengacuhkan Dewu. Gara-gara itu hubungan kami jadi renggang. Saling bertegur sapa bahkan saling tersenyumpun tidak.

Kami seperti orang asing yang saling memperhatikan. Aku tahu ia suka memperhatikanku dari jauh begitupun juga aku, memperhatikannya dari jauh.

            Sebenarnya saat dulu Dewu mengungkapkan perasaannya, aku begitu senang. Aku juga menyukainya. Tapi saat itu, ketakutan jika ia hanya mempermainkan perasaanku dan perasaan yang kumiliki hanya selewat.

Menyesal? Tentu aku menyesal. Perasaan selewat itu adalah perasaan cinta pertamaku. Cinta pertama yang begitu banyak penyesalan.

            Hingga kejadian itu terjadi, dimana ketika ia meminta bantuanku mengerjakan PR kimia saat kelas 2 SMA. Semenjak itulah kami dekat kembali. Kami menjadi sahabat. Saling bertukar keluh kesah, bermain bersama dan banyak lainnya. Orang-orang banyak yang menyangka kami pacaran, tentu saja mereka berfikir seperti itu. Kami seperti sepasang kekasih yang tidak terpisahkan. Kemana-mana selalu berdua, kami juga suka saling menyebut ‘sayang’.

            Aku memang mencintainya, tapi aku tidak tahu bagaimana perasaanya sama seperti dulu atau hanya menganggapku sebagai kisah lamanya. Biarlah semua itu tersimpan rapi menjadi rahasia.

“ini hal terakhir yang aku inginkan darimu Dewu. Terimakasih sayang..” aku mengecup pelan dahinya. Aku menjauhkan wajahku darinya.

“Selamat tinggal” ucapku lirih dan pergi berjalan meninggalkan Dewu.

            Itulah hal terakhir yang aku inginkan. Dan penyakit ini seperti menyadarkanku bahwa aku sebentar lagi akan pergi. 

END 

Source image: instagram manga, cover's A Beatz, cover's Son Hyo Kyou. 


Unknown

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

89 komentar:

  1. Gile ceritnya mengharukan membuat sipembaca terhayut dalam kisahnya dan penggunaan gambar nyapn sangt tepat apalagi dengan bahasa yang komunikatif yang membuat sipembaca tidak merasakan kejenuhan tetaoinmembuat sipembaca penasaran good job

    BalasHapus
  2. Wuiih ceritanya keren
    sad :'v kayaknya pengalaman si TS nih hahaha

    btw tulisannya bagus juga rapih enak di baca mudah dimengerti

    di tunggu komen baliknya yaa

    BalasHapus
  3. Hai hildaaa, karyanya bagus deh. Tulisannya rapih, cerpennya bisa membawa si pembaca khususnya saya terhanyut dalam cerita tersebut. Lanjutkan berkarya hildaaa

    BalasHapus
  4. Duhh ini cerita bikin baper. Bagus hil, kata yg dipakai mudah dimengerti, dilihat dari judulnya pun bikin org penasaran. Ditunggu postingan selanjutnya

    BalasHapus
  5. ceritanya sangat bagus, kata perkata nya juga sangat puitis. alur ceritanya pun sangat menarik. tingkatkan karya sebagus ini da

    BalasHapus
  6. wah ceritanya bagus. kata-kata yang digunakan bagus sehingga membuat saya terhanyut membacanya. tulisannya juga rapih, meski ada sedikit typo. tingkatkan terus, dtunggu post-post selanjutnya

    BalasHapus
  7. ceritanya sad banget. aku sampai nangis bacanya. pemilihan katanya bagus saya jadi terbawa suasana. untuk tulisan juga rapih. baguslah. dtunggu post-post selanjutnya

    BalasHapus
  8. Cerita nya sangat mengharukan sekali, hingga aku terbawa dengan cerita itu. Bagus bagus

    BalasHapus
  9. cerpennya sedih. saya terbawa suasana membacanya. kata-kata yang dipakai juga pitis binggow. tulisan rapi. tingkatkan dan ditunggu post-post selanjutnb

    BalasHapus
  10. Wihh keren banget smpai" terbawa suasa untuk si pembacanya.. Keren2 tingkatkan lagii ;)

    BalasHapus
  11. wah ceritanya keren banget,sangat luar biasa.good luck :)

    BalasHapus
  12. Aaaa ceritanya sedih banget, tapi bagus. Bahasa yang digunakan juga mudah dipahami, ceritanya remaja banget dan cocok buat kalangan anak sekolah. Cerita cinta nya juga tidak berlebihan.

    BalasHapus
  13. Ceritanya benar'benar mengharukan . Bagus sekali ending dan alur ceritanya.

    BalasHapus
  14. Weleh-weleh tidak menyangka klau sahabtku yang satu ini punya bakat dalam hal bercerita :-D hehe baguss..postingannya sangat menarik, gali terus potensimu ;-)

    BalasHapus
  15. Widih keren ceritanya, tingkatkan bakat menulisnya

    Ditunggu posting selanjutnya

    BalasHapus
  16. Hilda, bahasanya ampun.. Bagus.. Lanjutkan

    BalasHapus
  17. bahaha ini cerita pengalaman hidup yaa? jangan terjadi lagi yang seperti ini yaa wkwkwk

    BalasHapus
  18. Uhhhhh ceritanya bagus hil. saya sebagai pembaca merasa terharu membacakannya. Di tunggu postingannya

    BalasHapus
  19. ceritanya sad emm :') bagus hil, bahasanya komunikatif :) yo lanjutkan, ditunggu postting yang lainnya :)

    BalasHapus
  20. Ceritanya bagus da sangat mengharukan lebih di tingkatkan lagida

    BalasHapus
  21. Aaaaa cerita nya sad banget bikin sedih buat s pembaca, bahasa nya juga keren. Lanjutkan berkarya ya hil, ditunggu postingannya lagi

    BalasHapus
  22. Keren posan nya ka di tunggu ya karya berikut nya

    BalasHapus
  23. Bagus hil ceritanya bikin baper, bikin mewek 😭 kenapa harus ada mati-matian segala ih bikin tambah sedih..
    Tapi kata2nya juga bagus mudah dipahami. Lanjut berkarya ya hil, fighting!! 😍

    BalasHapus
  24. Acungi 2 jempol buat hilda khan cantik, memamng anda sudab berbakat dalam membuat cerpen atau semacamnya.. tingkatkan lagi yaaa.. sukses yaaa

    BalasHapus
  25. ceritanya sangat bagus, kata perkata nya juga sangat puitis. alur ceritanya pun sangat menarik.

    BalasHapus
  26. ahhh :'( bkin sad :'( bagus ceritanya bunda sayng.. tapi agak sedikit membingungkan ceritanya bun kurang panjang ,he
    di tunggu post selanjutnya :)

    BalasHapus
  27. Postingan yang bagus dengan katakata yang dapat membuat si pembaca ikut terbawa suasana.

    BalasHapus
  28. wih keren pisan nepi ka lieur maca nage panjang teing he

    BalasHapus
  29. wih keren pisan nepi ka lieur maca nage panjang teing he

    BalasHapus
  30. Aduhhh ceritanya ini mah terinspirasi dari pengalaman sendiri yahhh ??? :v tapi kasian ko meninggal :') bikin mau mewek T.T
    Baguss lanjutkan hill :D

    BalasHapus
  31. Post yng bagus hilda .. Menarik dan seru . ditunggu post selnjutnya

    BalasHapus
  32. Ceritanya bagus menarik ditunggu post selanjutnya ya

    BalasHapus
  33. Widiiih alhamdulilah setelah saya baca , saya terinpirasi,, di tunggu postingan selanjutnya.

    BalasHapus
  34. Bagus postingannya, cerita nya bisa membuat pembaca terbawa suasana, bacaan nya juga cukup menghibur
    Thanks ya..

    Jangan lupa komen balik ya hil ;)

    BalasHapus
  35. Kisah cintanya bikin jantung berdebar ada sedih dan bahagia, posting lagi dong yg lebih romance !

    BalasHapus
  36. Cerita ny Bagus Apalagih Tentang Cinta yg Sedang dialami Oleh Para Kaum Remaja Sekarang :) Hhe. . Ditunggu Postingan Selanjut ny .. Komen Balik Hilda ..

    BalasHapus
  37. euhh :'( ceritnyaaaaaa :') bikin pembaca ikut terhanyut di dalamnya bun.. bagus bangeett
    tapiil "itu maah ciga nu di alami atuh" haha viisss :)
    di tunggu ya cerita selanjutnya yang lebih seru lagii :)

    BalasHapus
  38. Bunda mah meni bikin cerita yang sedih, tapi ceritanya bagus ih, sampai sampai aku ikut terhanyut ke dalam isi cerita :')

    BalasHapus
  39. Ceritanya sedih, jadi terbawa suasana. Hebat lah bisa buat sipembaca masuk dalam ceritanya.

    BalasHapus
  40. kembangin jdi novel dong biar mkin nguyur air mata, sedih cerita nya eung . di dunia nyata beneran ada ga sih cinta yg kya gitu ??? hmh tpi berbakat gening jdi penulis hil :-D lanjutkan aye

    BalasHapus
  41. Cerita menyangkut kesedihan membuat hati orang terpengaruh. Bagus dalam membuat kata-katanya. Lebih dikembangkan lagi

    BalasHapus
  42. Wah ceritanya bagus. Sedih bgt. Pemilihan katanya bagus, tapi masih ada typo. Dtunggu post selanjutnya .

    BalasHapus
  43. good posting hilda.. bahasanya mudah dipahami dan baik untuk di publikasikan.. ditunggu posting selanjutnya yaa

    BalasHapus
  44. kereenn hilda ... pokonya ditunggu postingan2 yang lainnya . Di lanjut juga karya2nya ya sayang bgt kalo punya bakat bikin ginian tp gak d pake . gdluck hilda

    BalasHapus
  45. "Ini adalah keempat kalinya, dia membuat janji dan ia juga yang membatalkannya." u,u ga nepatin janji =( di tunggu ff kelanjutannya

    BalasHapus
  46. kisah cerittanya menarik ;;) di tunggu yah imjinasi selanjutnya :)))))

    BalasHapus
  47. Widiiiiiiiiihhhhh keren da , kebawa suasana bacanya di tambah penulisannya juga rapih emm . di tunggulah postingan selanjutnya yang lebih menarik . good job

    BalasHapus
  48. kayk cerita tentang kamu da ini mah? hehe. bagus ceritanya meski ada beberapa salah pengetikan tapi keseluruhan bagus. lebih ditingkatkan ya? :)

    BalasHapus
  49. Widiihhh keren sekaleeh ceritanya.\(^O^)/ imajinasi penulis pasti luas banget yaaa... penulisannya juga rapih, semoga cerita selanjutnya bisa lebih baik lagi yaa. Good luck 😄😄😄

    BalasHapus
  50. Postingan yang bagus dan menginspiriasi tapi masih bnayak yanh harus di perbaiki

    BalasHapus
  51. Mangap2 (mantap) artikelnya haha

    BalasHapus
  52. Hildaaa, karyanya bagus banget hehe. Sedih ih bacanya :( Dan aku juga suka sama tampilan blog kamuu hehe. Lucu /nahlho salah pokus/ mangaaat deh buat next postingannya ya

    BalasHapus
  53. kereeeeeeeeeeeeeeeeen, mengharukan sekali kisahnya ,ditunggu yg selanjutnya yaaaaa.

    BalasHapus
  54. postingan yang bagus da, kata yang digunakan pun tidak membuat pembaca bosen. ditunggu postingan berikutnya

    BalasHapus
  55. keren banget,di tunggu yah post lainya!!!

    BalasHapus
  56. Kereeen *.*

    Terharu, feelnya dapet, sedih:''
    Penulisannya rapi, ada typo sedikit, tapi pendeskripsiannya(?) bagus><

    Keep writing ya author *eh serasa abis baca ff XDD
    Keep writing teh, ditunggu cerpen selanjutnya, coba bikin yg chaptered hehe^^

    BalasHapus
  57. Ceritanya sad hil ,bagus bisa bikin pembaca ngerasain apa yang diceritain tadi huhu

    BalasHapus
  58. ceritanya keren, banyak memberikan wawasan baru, penulisannya rapih, untuk yang salah ngetik juga sedikit. lebih ditingkatkan ya :) dtunggu posting yang lain :)

    BalasHapus
  59. postingannya bagus. bermanfaat untuk reader. penulisannya juga rapih kata-katanya mudah dimengerti. dtunggu post yang lain

    BalasHapus
  60. aduh bagus bgt ceritanya, kata-katanya komunikatif dan mudah dimengerti. keren lah. dtunggu post yang lain

    BalasHapus
  61. wah wah postingan yang inspiratif sekali. memberikan abnyak pengetahuan baru. dtunggu postingan postingan lainnya. tetap berkarya :)

    BalasHapus
  62. bagus ceritanya hilda ,menarik untuk d baca .sngat mengharukan
    terus berkarya ,ditunggu postingan selanjutnya

    BalasHapus
  63. keren ceritanya aku terbawa suasana nih. typonya sedikit. tapi pemilihan katanya bagus. Fightingg!!! dtunggu post-post selanjutnya

    BalasHapus
  64. ceritanya sedih teh. bagus bgt tia yang baca jadi nangis. terus berkarya ya teh. :)

    BalasHapus
  65. GOOD POSTING NIH. oemilihann katanya bagus jadi yang baca gk tunduh. keren lah. dtunggu post post yang lainnya ya

    BalasHapus
  66. postingannya inspiratif sekali. pesannya tersampaikan. typonya sedikit tapi penulisannya harap drapihkan. dtunggu post-post selanjutnya

    BalasHapus
  67. wih postingannya menarik nih buat yang baca menjadi tidak bosan. typonya sedikit. terus berkarya dtunggu next postnya

    BalasHapus
  68. Postingan yang bagus (y) ditunggu postingan selanjutnya;)

    BalasHapus
  69. Post yng bagus hilda .. Menarik dan seru . ditunggu post selnjutnya

    BalasHapus
  70. bagus ceritanya hilda ,menarik untuk d baca .sngat mengharukan
    terus berkarya ,ditunggu postingan selanjutnya

    BalasHapus
  71. udah berpengalaman ini mah, bahasanya ngajak pembaca buat baca sampe abis.. di tunggu postingan cerinya lagi *serius.. hhe

    BalasHapus
  72. ceritanya sedih nih, aku jadi nangis karena terbawa suasana. masih ada typo tapi penulisannya rapih. dtunggu postnya yang lain

    BalasHapus
  73. duh jadi baper nih hha . bagus da ceritanya bahasanya mudah dimengerti , penulisanya rapih aaah bagus deh ditunggu ya postingan lainya

    BalasHapus
  74. Duhh ini cerita bikin baper. Bagus hil, kata yg dipakai mudah dimengerti, dilihat dari judulnya pun bikin org penasaran. Ditunggu postingan selanjutnya

    BalasHapus
  75. cukup bagus bun di tungu postingan seklanjutnya

    BalasHapus
  76. Bagus posting nya dda kata kata dan bahasanya sudah bisa membuat si pembaca mengerti. Sip

    BalasHapus
  77. Artikelnya cukup bagus, mudah dimengerti.. Saya setuju dengan pendapat yang anda utarakan pada artikel ini

    BalasHapus
  78. ceritanya keren hil , menarik perhatian orang . ditunggu postingan selanjutnya

    BalasHapus
  79. Mantap, ceritanya seru dan menarik. Ditunggu pos selanjutnya
    Komen balik ya di kharismajanuar-3a5.blogspot.com

    BalasHapus
  80. Postingan yang bagus dan menarik.. Bahasa yang digunakan pun sangat mudah dipahami.. Tingkatkan karya mu.. Ditunggu postingan selanjutnya yaaaa..

    BalasHapus
  81. Yaaaa udah ga aneh nih temen d blangkang bangkuku. Hihi kalau bikin sejenis cerpen atau ff bikin baper aje niih.. apalagi yg d posting ini .
    wah ceritanya bagus. kata-kata yang digunakan bagus sehingga membuat saya terhanyut membacanya. tulisannya juga rapih, meski ada sedikit typo. tingkatkan!!

    BalasHapus
  82. Sedih ini ceritanya udh mah di katain bodoh panjang lagi :(..bagus lanjutkan bisa" ini jadi penulis propesional :)

    BalasHapus
  83. ceritanya daebakk dan mudah di pahami si pembacanya. Fighting Hilda......

    BalasHapus

Annyeong

Annyeong

Annyeong

Annyeong

Annyeong